BELAJAR BAHASA INDONESIA : Siswa MTsN 4 Bungo

Lawan Budaya Hafalan! Siswa MTsN 4 Bungo Belajar Mengubah Pengamatan Menjadi Gagasan

Posted on 2026-08-09 23:37:46 dibaca 190 kali

MUARA BUNGO, bungopos.com — Ada pelajaran yang tidak cukup dipahami dengan membaca buku. Ia harus dimulai dari melihat, mengamati, mencatat, lalu mengubah apa yang dilihat menjadi kata-kata. Itulah yang berlangsung di ruang kelas 9C MTsN 4 Bungo ketika para siswa mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia tentang teks deskripsi.

Di bawah bimbingan Suyatmi, S.Pd., suasana kelas tampak serius. Para siswa berkonsentrasi menyusun hasil pengamatan mereka menjadi tulisan. Mereka tidak sekadar diminta menulis kalimat, melainkan belajar bagaimana membuat pembaca seolah-olah dapat melihat objek yang mereka ceritakan melalui rangkaian kata.

Prosesnya dimulai dari pengamatan. Siswa diarahkan memperhatikan objek secara saksama, menemukan detail yang dianggap penting, kemudian mencatat informasi tersebut sebelum mengembangkannya menjadi teks deskripsi.

Beberapa siswa terlihat kembali membuka catatan. Mereka memeriksa hasil pengamatan sebelum memilih kata dan menyusun kalimat. Dari meja-meja belajar itu, proses sederhana sedang berlangsung: sebuah objek yang semula hanya terlihat oleh mata perlahan diterjemahkan menjadi bahasa.

Suyatmi tidak membiarkan siswa bekerja sendirian. Ia memberikan arahan dan pendampingan selama proses penulisan. Para siswa didorong untuk memilih kata yang tepat, menyusun informasi secara runtut, dan memastikan objek yang mereka gambarkan dapat dipahami dengan jelas oleh pembaca.

Di sinilah pembelajaran teks deskripsi menjadi lebih dari sekadar materi pelajaran. Siswa belajar melihat dengan teliti, berpikir sebelum menulis, memilih kata, dan menyampaikan gagasan kepada orang lain.

Kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari literasi. Sebab menulis bukan hanya persoalan merangkai kalimat, melainkan kemampuan mengubah pengamatan menjadi pengetahuan dan pengalaman menjadi cerita yang dapat dipahami orang lain.

Keseriusan siswa kelas 9C selama pembelajaran menunjukkan bahwa ruang kelas dapat menjadi laboratorium kecil bagi tumbuhnya kreativitas. Dari sebuah pengamatan sederhana, mereka belajar membangun tulisan yang informatif, runtut, dan mudah dipahami.

Bagi MTsN 4 Bungo, pembelajaran semacam ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi yang tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Siswa juga diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan mengamati, berpikir kritis, menyusun gagasan, dan berkomunikasi melalui tulisan.

Sebab pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca kata. Literasi adalah kemampuan melihat dunia dengan lebih teliti—kemudian memiliki keberanian untuk menceritakannya kembali melalui kata-kata. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://mtsn4-bungo.mdrsh.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com