TANPA SINYAL : Masih ada desa di Jambi yang tanpa sinyal
JAMBI, bungopos.com— Di sebagian besar wilayah Jambi, dunia digital sudah berada di genggaman. Pesan dikirim dalam hitungan detik, transaksi dilakukan tanpa uang tunai, anak-anak belajar melalui layar, sementara pelaku usaha mulai menggantungkan pasar pada koneksi internet. Namun, kemajuan itu belum sampai ke semua pintu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi) dalam Statistik Potensi Desa Provinsi Jambi 2025 memperlihatkan paradoks tersebut. Dari 1.586 desa/kelurahan yang tercatat, sebanyak 1.431 wilayah atau sekitar 90,2 persen telah terjangkau jaringan 5G/4G/LTE.
Angka itu menunjukkan lompatan besar dalam konektivitas Jambi. Tetapi di balik dominasi jaringan cepat tersebut, masih terdapat 106 desa/kelurahan yang berada pada jaringan 3G/H/H+/EVDO, 30 wilayah masih mengandalkan jaringan 2,5G/E/GPRS, dan yang paling mencolok, 19 desa/kelurahan belum memiliki sinyal internet sama sekali.
Jambi, dengan demikian, telah memasuki era digital. Tetapi belum semua masyarakatnya tiba di sana dengan kecepatan yang sama.
Bagi mereka yang tinggal di kota atau kawasan dengan jaringan kuat, internet mungkin sudah dianggap sebagai kebutuhan biasa. Gangguan sinyal beberapa menit saja bisa terasa mengganggu. Namun bagi warga di desa yang sama sekali belum terjangkau jaringan, persoalannya jauh lebih mendasar: bukan lambat, melainkan tidak ada koneksi.
Perbedaan itu membuat internet bukan sekadar urusan teknologi. Ia mulai menentukan seberapa dekat seseorang dengan kesempatan.
Anak sekolah yang membutuhkan materi pembelajaran daring, misalnya, tidak hanya membutuhkan perangkat. Ia membutuhkan jaringan. Pedagang kecil yang ingin menjual produknya melalui platform digital tidak cukup hanya memiliki telepon pintar. Ia membutuhkan koneksi yang stabil. Petani yang ingin mengetahui harga komoditas, masyarakat yang membutuhkan layanan pemerintah secara daring, hingga warga yang mencari peluang kerja, semuanya berhadapan dengan persoalan yang sama: akses.
Di titik inilah kesenjangan digital berubah menjadi persoalan pembangunan.
Kabupaten Bungo menjadi salah satu gambaran paling jelas. Dari 153 desa/kelurahan, sebanyak 129 wilayah telah memiliki jaringan 5G/4G/LTE. Namun masih ada 15 wilayah dengan jaringan 3G, 4 wilayah dengan jaringan 2,5G, dan 5 wilayah yang sama sekali tidak memiliki sinyal internet.
Lima wilayah tanpa sinyal itu merupakan jumlah terbanyak di antara kabupaten/kota yang tercatat dalam data tersebut.
Bungo bukan satu-satunya daerah yang menghadapi persoalan konektivitas. Sarolangun, dengan 159 desa/kelurahan, telah memiliki 139 wilayah yang terjangkau 5G/4G/LTE. Namun masih terdapat 8 wilayah dengan jaringan 3G, 3 wilayah dengan jaringan 2,5G, dan 9 wilayah tanpa sinyal internet.
Dengan jumlah tersebut, Sarolangun menjadi daerah dengan desa/kelurahan tanpa sinyal terbanyak kedua setelah Bungo.
Di Kerinci, masih terdapat 3 wilayah tanpa sinyal, sedangkan Merangin mencatat 2 wilayah. Sementara itu, dalam tabel BPS tersebut, Batang Hari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Tebo, Kota Jambi, dan Kota Sungai Penuh tidak tercatat memiliki desa/kelurahan tanpa sinyal internet.
Gambaran itu memperlihatkan bahwa persoalan konektivitas Jambi bukan lagi semata-mata soal membangun jaringan. Tantangan berikutnya adalah menutup celah yang masih tersisa.
Sebab 19 desa tanpa sinyal mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan 1.431 desa yang telah menikmati jaringan 5G/4G/LTE. Secara statistik, jumlahnya hanya sekitar 1,2 persen dari total desa/kelurahan yang didata. Tetapi bagi warga yang tinggal di dalamnya, angka satu desa berarti satu komunitas, satu sekolah, satu kelompok pelaku usaha, satu wilayah pelayanan publik, dan ribuan kemungkinan yang belum sepenuhnya terhubung.
Di situlah statistik sering kali menyembunyikan cerita manusia.
Pembangunan digital kerap diukur dari berapa banyak wilayah yang telah terjangkau jaringan. Padahal ukuran yang tidak kalah penting adalah berapa banyak wilayah yang masih tertinggal. Sebab dalam ekonomi yang semakin bergantung pada konektivitas, jaringan internet perlahan memiliki posisi yang mirip dengan jalan, listrik dan infrastruktur dasar lainnya.
Jalan membuka mobilitas. Listrik menghidupkan aktivitas. Internet membuka akses terhadap informasi, pasar dan kesempatan.
Karena itu, keberhasilan Jambi membangun konektivitas tidak cukup dirayakan melalui angka 90,2 persen wilayah yang telah memiliki 5G/4G/LTE. Angka itu memang patut diapresiasi. Tetapi pekerjaan rumah justru berada pada bagian yang lebih kecil dan lebih sulit dijangkau.
Ada 19 desa yang belum tersambung sama sekali. Ada 106 wilayah yang masih berada pada jaringan 3G. Ada 30 wilayah yang masih bertumpu pada jaringan 2,5G.
Di tengah percepatan transformasi digital, kelompok inilah yang berisiko tertinggal bukan karena tidak ingin berubah, melainkan karena infrastrukturnya belum memberi kesempatan yang sama.
Jambi boleh saja disebut semakin terkoneksi. Tetapi konektivitas yang sesungguhnya bukan ketika mayoritas sudah terhubung. Ia baru benar-benar tercapai ketika mereka yang berada di pinggir jaringan juga mendapatkan pintu masuk yang sama menuju dunia digital.
Sebab di zaman ketika informasi bergerak dalam hitungan detik, jarak geografis seharusnya tidak berubah menjadi jarak kesempatan.
Dan 19 desa tanpa sinyal itu menyampaikan pesan sederhana: Jambi sudah terhubung, tetapi pekerjaan belum selesai. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com