PELAJARAN HIDUP : MAN 1 Bungo mengajarkan tentang ilmu Fardhu Kifayah
MUARA BUNGO, bungopos.com — Ada pelajaran yang tidak pernah muncul dalam ujian sekolah, tetapi suatu hari bisa menjadi pengetahuan paling dibutuhkan seseorang ketika berada di tengah masyarakat: bagaimana memperlakukan manusia untuk terakhir kalinya.
Itulah yang coba diajarkan MAN 1 Bungo melalui kegiatan keagamaan rutin setiap Jumat pagi. Program pembinaan karakter dan penguatan kompetensi keagamaan kembali digelar pada tahun pelajaran ini, dengan pendekatan yang tidak berhenti pada teori, tetapi membawa siswa berhadapan dengan keterampilan keagamaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada pelaksanaan perdana, para siswa tidak ditempatkan dalam satu kegiatan yang seragam. Mereka diberi kesempatan memilih sejumlah cabang sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Setiap kelompok kemudian mendapatkan pendampingan dari guru pembimbing yang berbeda agar proses belajar berlangsung lebih terarah dan mendalam.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah pelatihan penyelenggaraan jenazah.
Di bawah bimbingan Ustad Saimun, para siswa mempelajari tata cara penyelenggaraan jenazah sesuai syariat Islam, mulai dari pemahaman dasar hingga praktik. Materi diberikan secara bertahap agar siswa tidak hanya mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi juga memahami mengapa setiap tahapan harus dilakukan dengan benar.
Pelajaran tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun sesungguhnya, penyelenggaraan jenazah merupakan bagian dari fardu kifayah—sebuah tanggung jawab keagamaan yang menjadi kewajiban bersama umat Islam dan harus ada sebagian masyarakat yang mampu melaksanakannya.
Di sinilah pendidikan agama menemukan relevansinya.
Sekolah tidak hanya mengajarkan siswa untuk memperoleh nilai tinggi, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Ada saat ketika seseorang harus menjadi imam. Ada saat ketika masyarakat membutuhkan orang yang mampu membaca Al-Qur’an. Dan ada saat ketika sebuah keluarga kehilangan orang tercinta dan membutuhkan tangan-tangan yang tahu bagaimana menjalankan kewajiban terakhir kepada anggota keluarganya.
Ustad Saimun menekankan bahwa ilmu penyelenggaraan jenazah merupakan pengetahuan yang seharusnya tidak asing bagi seorang muslim.
“Kegiatan ini bukan hanya untuk menambah wawasan keagamaan, tetapi juga sebagai bekal bagi siswa agar mampu berkontribusi ketika berada di tengah masyarakat,” ujar Ustad Saimun saat memberikan arahan kepada peserta.
Pendekatan yang diterapkan MAN 1 Bungo tahun ini juga menarik karena memberi ruang kepada siswa untuk menentukan bidang yang ingin mereka pelajari.
Model percabangan membuat kegiatan Jumat pagi tidak sekadar menjadi rutinitas mingguan. Siswa dapat memilih bidang berdasarkan minat, sementara guru memberikan pendampingan yang lebih spesifik sesuai kompetensi masing-masing.
Hasilnya terlihat dari antusiasme peserta. Mereka tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi juga mengikuti praktik dan mengalami langsung proses pembelajaran.
Bagi dunia pendidikan, pendekatan semacam ini memiliki pesan penting: pendidikan karakter akan lebih kuat ketika siswa tidak hanya diberi tahu tentang nilai, tetapi diberi kesempatan untuk mempraktikkannya.
Pengetahuan agama yang berhenti di buku dapat menjadi hafalan. Namun pengetahuan agama yang dilatih melalui pengalaman dapat berubah menjadi keterampilan.
Dan keterampilan itulah yang kelak dibawa siswa keluar dari gerbang sekolah.
MAN 1 Bungo tampaknya ingin memastikan bahwa lulusan mereka tidak hanya mampu menjawab soal di ruang ujian, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat ketika berada di tengah kehidupan sosial.
Sebab ukuran keberhasilan pendidikan pada akhirnya bukan hanya seberapa tinggi nilai yang tertulis di rapor.
Ia juga terlihat dari seberapa besar seorang anak mampu menjadi manusia yang berguna bagi orang lain.
Melalui Jumat pagi, MAN 1 Bungo sedang menanamkan pesan tersebut secara perlahan: ilmu harus memiliki fungsi, agama harus melahirkan akhlak, dan sekolah harus mempersiapkan manusia untuk kehidupan yang sesungguhnya.
Termasuk untuk sebuah hari yang tidak bisa dihindari siapa pun—ketika seseorang harus mengantar orang lain menuju perjalanan terakhirnya. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com