PERESMIAN : Bupati Batang Hari, Mhd Fadhil Arif menyerahkan kunci rumah layak huni yang dibangun oleh Baznas Kabupaten Batang Hari disaksikan Ketua Baznas H Muslim, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi Dr. Irwan Rahmat Gumilar, Kepala Lapas Kelas II B Muara Bulian M. Ilham Santoso Sahdani di Desa Simpang Terusan.

Cinta Zakat Berbuah 16 Rumah, Baznas Batang Hari Menghadirkan Harapan dan Senyum Mustahiq

Posted on 2026-08-04 23:09:43 dibaca 197 kali

MUARA BULIAN, bungopos.com - Selasa siang, 4 Agustus 2026, matahari masih menyengat di Desa Simpang Terusan, Kecamatan Muara Bulian. Di halaman rumah yang sederhana tak jauh dari Jembatan Timbang jalan lintas sumatera itu sudah dipenuhi pejabat pemerintah, aparat, tokoh agama, hingga masyarakat desa. Bupati Batang Hari, Mhd Fadhil Arief menyerahkan secara simbolis kunci rumah kepada salah satu penerima manfaat  dari 16 rumah yang dibangun Baznas Kabupaten Batang Hari. Bangunan sederhana itu berdiri kokoh. Namun, kisah yang melatarbelakanginya jauh lebih besar daripada tembok dan atap yang tampak di depan mata.

Sebanyak 16 unit Rumah Layak Huni yang dibangun Baznas Kabupaten Batang Hari tersebar di delapan kecamatan. Di antara rumah-rumah itu, tiga unit diperuntukkan bagi guru/santri pondok pesantren. Dua lainnya memiliki cerita yang berbeda: dibangun melalui kolaborasi Baznas dengan Lapas Kelas II B Muara Bulian di Desa Simpang Terusan. Serta rumah koloborasi dengan TMMD TNI dibangun di Desa Petajen.

Kolaborasi itu menghadirkan sebuah pertanyaan yang menarik untuk dijawab: sejauh mana zakat dapat menjadi instrumen pembangunan sosial yang tidak hanya mengurangi kemiskinan, tetapi juga membuka ruang rehabilitasi bagi mereka yang pernah tersisih?

Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Batang Hari, Mhd Fadhil Arief, didampingi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi Dr. Irwan Rahmat Gumilar, Kepala Lapas Kelas II B Muara Bulian M. Ilham Santoso Sahdani, Ketua MUI Batang Hari KH Zaharuddin AK, pejabat Pemerintah Kabupaten Batang Hari, para camat, kepala desa, serta tokoh masyarakat.

Rangkaian acara berlangsung sebagaimana lazimnya sebuah seremoni resmi: lagu Indonesia Raya, pembacaan Ummul Qur'an, lalu sambutan para pejabat. Namun perhatian hadirin mulai terpusat ketika Bupati Mhd Fadhil Arif berbicara mengenai manusia, kesalahan, dan kesempatan kedua.

"Manusia itu dihitung finish-nya. Kalau finish-nya baik, maka semuanya akan menjadi baik," ujarnya.

Kalimat itu menjadi pintu masuk bagi pesan yang lebih luas. Menurut Fadhil, setiap orang diuji dengan cara yang berbeda. Ada yang diuji melalui penyakit, ada yang melalui kesulitan hidup, bahkan ada yang harus menjalani pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Tetapi, katanya, tidak ada manusia yang boleh kehilangan kesempatan untuk kembali menjadi bagian dari masyarakat.

Pesan itu terasa relevan dengan keberadaan rumah hasil kerja sama Baznas dan Lapas di Desa Simpang Terusan itu. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan melibatkan warga binaan sebagai bagian dari pembinaan keterampilan.

"Hari ini kita lihat rumah ini dibangun oleh para warga binaan. Ketika mereka kembali ke masyarakat, terimalah mereka dengan baik. Mari memanusiakan manusia," kata Fadhil.

Kalimat itu sesungguhnya menyentuh persoalan yang lebih besar daripada pembangunan rumah. Selama ini, mantan warga binaan sering menghadapi hambatan sosial ketika kembali ke tengah masyarakat. Stigma membuat mereka sulit memperoleh pekerjaan, akses ekonomi, bahkan penerimaan sosial. Program pembangunan rumah bersama Lapas mencoba memperlihatkan sisi lain bahwa proses pemasyarakatan bukan semata menjalani hukuman, tetapi juga membangun kembali keterampilan dan rasa percaya diri.

Bupati bahkan meminta seluruh pemangku kepentingan ikut memikirkan masa depan warga binaan setelah bebas nanti. Menurut dia, persoalan tidak berhenti ketika seseorang keluar dari lembaga pemasyarakatan. Mereka membutuhkan kesempatan bekerja, termasuk dukungan terhadap usaha mikro agar memiliki modal untuk memulai hidup baru.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Dr. Irwan Rahmat Gumilar. Ia menilai setiap orang memiliki peluang untuk berubah sepanjang masyarakat bersedia memberikan ruang.

Kolaborasi pembangunan rumah layak huni bersama Baznas, kata Irwan, bukanlah yang pertama. Program serupa telah dijalankan di sejumlah daerah lain di Provinsi Jambi, seperti Tanjung Jabung Timur dan Merangin. Model kerja sama ini memperlihatkan bagaimana program pembinaan warga binaan dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Di sisi lain, Bupati Fadhil juga menyoroti persoalan yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar di Kabupaten Batang Hari.

Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi daerah menunjukkan tren positif. Namun peningkatan itu belum sepenuhnya tercermin dalam pertumbuhan penghimpunan zakat dari masyarakat secara sukarela.

Sebagian besar zakat yang masuk ke Baznas, menurutnya, masih didominasi mekanisme pemotongan langsung, terutama di kalangan aparatur sipil negara.

"Ibadah itu memang sering dimulai dari paksaan, kemudian menjadi kebiasaan, hingga akhirnya menjadi kesadaran," ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi ajakan agar kesadaran berzakat tumbuh bukan semata karena sistem administrasi, melainkan karena keyakinan bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

"Kepuasan tertinggi adalah ketika kita mampu berbagi. Mari titipkan zakat kepada Baznas Kabupaten Batang Hari karena mustahiqnya jelas," katanya.

Bagi Baznas sendiri, pembangunan rumah bukan sekadar proyek fisik.

Ketua Baznas Kabupaten Batang Hari, H. Muslim, mengatakan seluruh program itu lahir dari kepercayaan para muzakki yang menyalurkan zakat melalui Baznas.

"Tahun ini kami membangun 16 rumah. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh muzakki dan semua pihak yang telah membantu sehingga program ini dapat terlaksana," ujarnya.

Di balik angka 16 rumah, terdapat puluhan orang yang kini memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Ada guru pesantren yang dapat mengajar dengan lebih tenang, keluarga dhuafa yang tidak lagi dihantui bocornya atap ketika hujan turun, serta warga binaan yang menemukan makna baru melalui hasil kerja tangan mereka sendiri.

Program ini mungkin tidak menghapus kemiskinan dalam semalam. Namun ia memperlihatkan satu hal yang sering terlupakan dalam pembangunan sosial: bahwa rumah bukan hanya tempat berteduh. Ia adalah simbol pengakuan bahwa setiap orang—termasuk mereka yang pernah jatuh—tetap berhak memperoleh kesempatan untuk bangkit dan hidup lebih bermartabat. (***)

Penulis: Arya Abisatya
Editor: Arya Abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com