KESENJANGAN : Kesenjangan ekonomi Indonesia makin menganga

Republik Semakin Tak Setara, Kekayaan Segelintir Orang Melaju Ribuan Kali Lebih Cepat dari Upah Buruh

Posted on 2026-07-31 11:16:17 dibaca 32 kali

JAKARTA, bungopos.com – Di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih menjadi kebanggaan nasional, sebuah pertanyaan mendasar muncul: siapa yang sebenarnya paling menikmati hasil pertumbuhan tersebut?

Laporan terbaru Center of Economic and Law Studies (CELIOS) berjudul Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026: Republik Oligarki menggambarkan potret yang mengundang perhatian. Menurut penelitian tersebut, pertumbuhan kekayaan di Indonesia berlangsung jauh lebih cepat di kelompok masyarakat paling kaya dibandingkan dengan peningkatan kesejahteraan mayoritas pekerja. Penelitian ini dipublikasikan pada April 2026 dan disusun secara independen oleh CELIOS.

Temuan yang paling mencolok menunjukkan bahwa kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia bertambah sekitar Rp13,48 miliar setiap hari, atau setara Rp9,36 juta setiap detik. Dalam satu tahun, akumulasi pertambahan kekayaan mereka diperkirakan mencapai Rp4,92 triliun. Sebaliknya, rata-rata kenaikan upah buruh hanya sekitar Rp2.113 per hari, atau Rp1,47 per detik, sehingga dalam setahun peningkatannya hanya sekitar Rp760.728.

Perbedaan tersebut bukan sekadar angka statistik. Ia menggambarkan jurang yang semakin lebar antara pertumbuhan kekayaan dan pertumbuhan pendapatan masyarakat pekerja.

Laporan CELIOS juga mengungkap bahwa total kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia bahkan lebih besar daripada nilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta nilainya setara dengan sekitar seperlima Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Menurut peneliti, kondisi tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi kepemilikan aset pada kelompok masyarakat yang sangat kecil.

Penelitian ini turut menyoroti struktur ekonomi nasional. Sekitar 58 persen kekayaan 50 orang terkaya berasal dari sektor-sektor ekstraktif, seperti pertambangan dan eksploitasi sumber daya alam. CELIOS menilai konsentrasi kekayaan pada sektor tersebut berkontribusi terhadap semakin lebarnya ketimpangan ekonomi.

Dalam simulasi kebijakan fiskalnya, CELIOS memperkirakan bahwa pengenaan pajak kekayaan sebesar 2 persen terhadap 50 orang terkaya berpotensi menghasilkan penerimaan sekitar Rp93 triliun. Bahkan jika diterapkan lebih luas kepada kelompok superkaya yang memenuhi kriteria penelitian, potensi penerimaannya diperkirakan mencapai Rp142 triliun. Penelitian tersebut menyebut tambahan penerimaan itu berpotensi memperkuat ruang fiskal pemerintah untuk mendukung program-program pengentasan kemiskinan, meski implementasinya tetap bergantung pada kebijakan negara dan berbagai pertimbangan ekonomi lainnya.

Salah satu ilustrasi yang paling menggugah dalam laporan itu adalah perbandingan waktu. CELIOS memperkirakan bahwa buruh membutuhkan sekitar 2,8 abad untuk menyamai kekayaan 50 orang terkaya dengan asumsi tertentu yang digunakan dalam penelitian. Di sisi lain, lima triliuner teratas diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 603 tahun agar kekayaannya habis apabila mereka membelanjakan Rp2 miliar setiap hari. Angka tersebut merupakan simulasi ilustratif dalam laporan dan bukan proyeksi perilaku nyata.

Meski demikian, laporan ini hadir di tengah kondisi ketika ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif. Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen (year-on-year) pada triwulan I 2026, didorong terutama oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan dapat terjadi secara bersamaan apabila manfaat pertumbuhan tidak tersebar secara merata.

CELIOS menegaskan bahwa tujuan utama publikasi ini bukan sekadar memotret ketimpangan, melainkan mendorong diskusi publik mengenai bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat menjadi lebih inklusif. Laporan tersebut berargumen bahwa ketimpangan tidak hanya dipengaruhi oleh mekanisme pasar, tetapi juga oleh struktur ekonomi dan kebijakan yang menentukan distribusi kesempatan dan kepemilikan aset.

Di balik deretan angka yang mengejutkan itu, terdapat pesan yang lebih besar: keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari seberapa cepat ekonomi tumbuh, tetapi juga dari seberapa adil hasil pertumbuhan tersebut dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Pertumbuhan yang tinggi akan lebih bermakna apabila mampu mempersempit kesenjangan, memperluas kesempatan, dan meningkatkan kesejahteraan kelompok yang selama ini berada di lapisan bawah ekonomi. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: CELIOS
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com