SULIT : Anak muda Jambi yang sulit menembus lapangan kerja
JAMBI — Sekilas, pasar kerja di Provinsi Jambi menunjukkan kabar yang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 turun menjadi 4,26 persen, lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 maupun Februari 2025 yang sama-sama berada di angka 4,48 persen. Penurunan ini memberi sinyal bahwa perekonomian mulai mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Namun, di balik statistik yang membaik itu, tersimpan persoalan yang jauh lebih kompleks. Kelompok usia muda masih menjadi wajah utama pengangguran di Jambi.
Data BPS menunjukkan TPT penduduk berusia 15–24 tahun mencapai 16,98 persen. Dengan kata lain, hampir satu dari enam anak muda yang aktif mencari pekerjaan belum berhasil memperoleh pekerjaan. Secara keseluruhan, jumlah pengangguran di Provinsi Jambi mencapai 74.617 orang.
Angka itu memperlihatkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja belum mampu mengimbangi derasnya arus lulusan baru yang memasuki pasar kerja setiap tahun.
Fenomena tersebut menjadi ironi tersendiri. Ketika semakin banyak anak muda berhasil menamatkan pendidikan menengah maupun perguruan tinggi, peluang memperoleh pekerjaan yang sesuai justru belum bertambah secepat jumlah pencari kerja.
Ijazah Tak Lagi Menjadi Tiket
Potret pengangguran di Jambi juga memperlihatkan perubahan karakter pasar kerja. Mereka yang menganggur bukan lagi didominasi oleh penduduk berpendidikan rendah. Sebaliknya, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi justru menjadi kelompok yang paling banyak mengisi daftar pencari kerja.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ijazah bukan lagi jaminan untuk memperoleh pekerjaan.
Perusahaan kini mencari tenaga kerja yang tidak hanya memiliki pendidikan formal, tetapi juga keterampilan teknis, kemampuan digital, pengalaman kerja, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi. Di sisi lain, banyak lulusan baru memasuki pasar kerja dengan pengalaman yang masih terbatas.
Jurang antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri—yang dikenal sebagai mismatch—menjadi salah satu penyebab utama sulitnya generasi muda memasuki dunia kerja.
Perbaikan yang Belum Merata
Penurunan tingkat pengangguran juga belum dinikmati secara merata.
Pada Agustus 2025, TPT laki-laki tercatat 4,04 persen, turun dari 4,98 persen pada Februari 2025. Sebaliknya, TPT perempuan meningkat menjadi 4,63 persen, dari sebelumnya 3,58 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasar kerja masih menyisakan kesenjangan. Kesempatan kerja bagi perempuan belum tumbuh secepat yang dialami laki-laki. (***)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com