SUKU BUNGA NAIK : Antisipasi melemahnya nilai rupiah

Saat Rupiah Terpuruk, Mengapa Bank Indonesia Menaikkan Suku Bunga ?

Posted on 2026-07-11 13:37:42 dibaca 118 kali

JAKARTA, bungopos.com — Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17–18 Juni 2026, di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya tekanan di pasar keuangan domestik. Kenaikan tersebut membawa BI Rate ke level tertinggi sejak April 2025.

Keputusan itu diambil setelah nilai tukar rupiah sempat melemah hingga Rp18.171 per dolar Amerika Serikat pada 9 Juni 2026, level terendah sejak krisis keuangan Asia 1998. Dalam beberapa pekan sebelumnya, pasar saham dan obligasi Indonesia juga mengalami tekanan akibat keluarnya arus modal asing.

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, mengatakan keputusan BI mencerminkan meningkatnya urgensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah perubahan kondisi ekonomi global.

"Bank Indonesia menggunakan forum rapat yang biasanya tidak dipakai untuk mengubah suku bunga. Ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk merespons tekanan terhadap rupiah," kata Rijadh, Jumat.

Menurutnya, lingkungan moneter global telah berubah dibandingkan satu tahun lalu ketika banyak bank sentral utama memangkas suku bunga. Meningkatnya ketegangan geopolitik dan perbedaan kondisi ekonomi di berbagai negara membuat arah kebijakan kini cenderung lebih ketat.

"Bagi negara berkembang seperti Indonesia, ekspektasi penurunan suku bunga global sudah berakhir. Risiko kini bergerak ke arah suku bunga yang lebih tinggi," ujarnya.

Kondisi tersebut, kata Rijadh, membatasi ruang Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneter yang longgar meskipun pertumbuhan ekonomi domestik sedang melambat.

Tekanan juga terlihat pada pasar keuangan. Investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp73,60 triliun di pasar saham sepanjang semester pertama 2026. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat naik hingga sekitar 7,48 persen pada 10 Juni sebelum kembali menurun, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 35 persen selama paruh pertama tahun ini dan ditutup di kisaran 5.643 pada akhir Juni.

Menurut Rijadh, kenaikan suku bunga global telah mengubah preferensi investor.

"Imbal hasil instrumen pendapatan tetap menjadi semakin menarik sehingga sebagian investor mengalihkan portofolionya dari saham ke obligasi," katanya.

Kenaikan suku bunga juga diperkirakan menambah tekanan terhadap konsumsi domestik yang sudah menghadapi kenaikan biaya hidup. Harga BBM nonsubsidi naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara inflasi Juni tercatat sebesar 3,34 persen.

Kombinasi bunga kredit yang lebih tinggi, pelemahan rupiah, dan kenaikan harga energi berpotensi menekan permintaan masyarakat, terutama pada sektor yang bergantung pada pembiayaan kredit. Kelompok masyarakat berpendapatan menengah dinilai menjadi salah satu yang paling terdampak karena menghadapi kenaikan biaya hidup dan cicilan secara bersamaan.

Meski demikian, Rijadh menilai biaya mempertahankan suku bunga rendah dalam kondisi saat ini akan lebih besar apabila pelemahan rupiah tidak dapat dikendalikan.

"Jika rupiah terus melemah, harga barang impor termasuk pangan dan energi akan meningkat dan dampaknya lebih besar bagi masyarakat berpendapatan rendah," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa stabilisasi ekonomi tidak dapat sepenuhnya bergantung pada kebijakan moneter. Pemerintah perlu memperkuat kredibilitas fiskal, menjaga transparansi tata kelola, serta mempercepat reformasi untuk menarik investasi asing langsung dan meningkatkan ekspor bernilai tambah.

Menurutnya, perlindungan terhadap daya beli masyarakat juga perlu dilakukan melalui bantuan sosial dan subsidi yang lebih tepat sasaran dibandingkan stimulus fiskal yang bersifat luas, agar tidak memperbesar tekanan terhadap anggaran negara.

"Kepercayaan investor masih ada. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola dan fondasi ekonomi jangka panjang," kata Rijadh. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com