Sukses di Pendidikan Dasar, Bungo Menghadapi Krisis Baru di Pendidikan Menengah

Posted on 2026-07-08 15:34:09 dibaca 51 kali

MUARA BUNGO, bungopos.com  — Ada kabar baik sekaligus catatan yang perlu mendapat perhatian serius dari dunia pendidikan di Kabupaten Bungo. Hampir seluruh anak usia sekolah dasar kini telah mengenyam pendidikan. Namun, pada saat yang sama, semakin banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikan sesuai usianya ketika memasuki jenjang SMP.

Potret itu tergambar dalam data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala BPS Kabupaten Bungo, Ardiansyah, mengatakan angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Bungo telah bergeser. Jika dahulu fokus pemerintah adalah membuka akses sekolah, kini tantangan utamanya adalah memastikan anak-anak tetap bertahan hingga menyelesaikan pendidikan menengah.

"Kalau kita membaca data ini secara utuh, tantangan pendidikan di Bungo bukan lagi sekadar bagaimana anak masuk sekolah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka tetap berada di bangku sekolah sampai tamat SMA atau sederajat," kata Ardiansyah.

Data BPS mencatat Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SD/MI naik dari 97,40 persen pada 2024 menjadi 98,34 persen pada 2025. Artinya, dari setiap 100 anak usia sekolah dasar, sekitar 98 anak telah bersekolah sesuai kelompok usianya.

Sementara itu, Angka Partisipasi Kasar (APK) SD mencapai 109,08 persen.

Bagi sebagian orang, angka di atas 100 persen mungkin terdengar janggal. Namun menurut Ardiansyah, kondisi tersebut justru lazim dalam statistik pendidikan.

"APK menghitung seluruh siswa yang bersekolah di jenjang SD tanpa melihat usianya. Jadi ada anak yang masuk sekolah lebih awal, terlambat masuk, atau mengulang kelas sehingga jumlahnya bisa melampaui jumlah penduduk usia SD," ujarnya.

Menurut dia, capaian tersebut menunjukkan akses pendidikan dasar di Kabupaten Bungo sudah mendekati kondisi universal.

Namun, optimisme itu tidak sepenuhnya berlanjut ketika memasuki jenjang pendidikan menengah pertama.

Data Susenas memperlihatkan APM SMP/MTs turun dari 81,56 persen pada 2024 menjadi 71,76 persen pada 2025. Penurunan hampir 10 poin persentase dalam setahun itu menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan.

Meski APK SMP masih berada pada angka 95,92 persen, penurunan APM mengindikasikan semakin banyak anak usia SMP yang tidak bersekolah sesuai jenjangnya.

Ardiansyah menilai fenomena tersebut perlu dibaca secara hati-hati.

"Data statistik tidak langsung menjelaskan penyebabnya. Tetapi angka ini menjadi sinyal awal yang perlu didalami bersama oleh pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, maupun masyarakat. Ada kemungkinan dipengaruhi faktor ekonomi keluarga, perpindahan penduduk, keterlambatan masuk sekolah, maupun faktor sosial lainnya," katanya.

Menurut dia, data statistik berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system) agar pemangku kebijakan dapat segera mengambil langkah yang tepat.

Di tengah penurunan pada jenjang SMP, terdapat perkembangan yang cukup menggembirakan pada pendidikan menengah atas.

APM SMA/SMK/MA meningkat dari 49,01 persen menjadi 58,19 persen, sedangkan APK naik dari 76,81 persen menjadi 86,95 persen.

Peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak remaja usia SMA yang berhasil mengakses pendidikan menengah atas.

Namun demikian, Ardiansyah mengingatkan bahwa angka tersebut juga berarti masih terdapat sekitar empat dari sepuluh remaja usia SMA yang belum bersekolah sesuai kelompok usianya.

"Kenaikan ini tentu patut diapresiasi, tetapi kita juga melihat masih ada ruang yang besar untuk meningkatkan partisipasi pendidikan pada jenjang SMA. Artinya pekerjaan rumah kita belum selesai," ujarnya.

Jika disusun menjadi satu rangkaian, data tersebut membentuk gambaran yang menarik. Fondasi pendidikan di Kabupaten Bungo semakin kuat karena hampir seluruh anak berhasil mengakses pendidikan dasar. Akan tetapi, semakin tinggi jenjang pendidikan, jumlah peserta didik mulai menyusut.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Bungo. Banyak daerah, bahkan negara berkembang, menghadapi tantangan serupa. Akses pendidikan dasar semakin baik, tetapi mempertahankan peserta didik hingga pendidikan menengah masih menjadi persoalan.

Ardiansyah menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan pada masa mendatang tidak cukup hanya diukur dari banyaknya sekolah atau ruang kelas yang tersedia.

"Ukuran keberhasilan pendidikan sekarang adalah bagaimana setiap anak dapat terus belajar sampai menyelesaikan pendidikan menengah. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh seseorang, semakin besar pula peluangnya memperoleh pekerjaan yang layak dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya," katanya. (***)

 

   
Editor: Arya Abisatya
Sumber: Bungo Dalam Angka
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com