TRADISI 7 BULAN : Pendekatan budaya dipercaya bisa membuat ibu dan anak tumbuh kembang dengan sehat

Dalam Setahun 30 Ribu Ibu Wafat Saat Melahirkan, Ini Cara Tradisional Antisipasi Kematian Ibu

Posted on 2026-05-18 20:31:50 dibaca 116 kali

YOGYAKARTA, bungopos.com - Di tengah kemajuan dunia medis yang semakin pesat, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi. Data dari Kementerian Kesehatan RI yang mencatat sekitar 4.000 ibu hamil dan 30 ribu bayi meninggal setiap tahun menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan tidak hanya berbicara tentang rumah sakit, obat-obatan, atau teknologi medis semata. Ada sisi kemanusiaan, budaya, bahkan nilai spiritual yang harus disentuh bersama.

Ketua Pengurus Pusat Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (PP HOGSI), Dwiana Ocviyanti menegaskan bahwa Indonesia yang kaya akan budaya membutuhkan pendekatan kesehatan yang juga memahami keragaman masyarakatnya. Sebab, keselamatan ibu dan anak tidak cukup hanya ditangani dengan ilmu kedokteran, tetapi juga harus hadir melalui dukungan keluarga, lingkungan sosial, pola pikir masyarakat, hingga nilai-nilai religi yang menguatkan.

Kehamilan bukan sekadar proses biologis. Ia adalah perjalanan penuh harapan yang membutuhkan perhatian bersama. Ketika seorang ibu mengalami anemia, kekurangan gizi, infeksi, atau tekanan psikologis selama mengandung, dampaknya dapat memengaruhi masa depan anak bahkan sejak masih berada di dalam rahim. Inilah mengapa persoalan stunting harus dicegah sejak masa kehamilan, bukan hanya setelah anak lahir.

Namun di balik tantangan itu, ada secercah harapan yang terus tumbuh. Para tenaga kesehatan di Indonesia mulai membangun pendekatan yang lebih manusiawi dan menyeluruh. Bidan, dokter, ahli gizi, psikolog, hingga perawat didorong untuk bekerja bersama memastikan ibu dan anak mendapatkan pendampingan terbaik sejak awal kehamilan hingga masa tumbuh kembang anak.

Yang menarik, pendekatan modern ini ternyata tidak meninggalkan akar budaya bangsa. Dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan XVII HOGSI di Yogyakarta, para ahli justru mengangkat kembali nilai luhur tradisi Nusantara seperti mitoni dan tedak siten. Tradisi tersebut membuktikan bahwa sejak dahulu masyarakat Indonesia telah memahami bahwa menjaga ibu hamil adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan pribadi seorang perempuan.

Di balik ritual adat itu tersimpan filosofi mendalam tentang cinta, doa, perhatian, dan gotong royong. Ketika keluarga dan masyarakat hadir memberi dukungan moral kepada ibu hamil, sesungguhnya mereka sedang membangun kesehatan yang lebih kuat dari sekadar pengobatan.

Keselamatan ibu dan bayi pada akhirnya bukan hanya angka statistik. Ia adalah tentang masa depan bangsa. Setiap ibu yang selamat melahirkan berarti lahirnya harapan baru. Setiap bayi yang tumbuh sehat adalah investasi besar bagi Indonesia di masa depan.

Karena itu, perjuangan menurunkan angka kematian ibu dan bayi bukan hanya tugas tenaga kesehatan atau pemerintah. Ini adalah gerakan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian semua pihak — keluarga, masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, hingga generasi muda.

Saat ilmu pengetahuan berjalan beriringan dengan budaya, kasih sayang, dan nilai spiritual, maka kesehatan ibu dan anak bukan lagi sekadar program, melainkan sebuah peradaban yang memuliakan kehidupan sejak dari kandungan. (***)

Editor: Arya Abisatya
Sumber: https://ugm.ac.id/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com