Masoud Pezeshkian

Dari Dokter Bedah ke Istana Presiden : Kisah Perlawanan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian Perang Melawan Amerika

Posted on 2026-03-29 13:13:45 dibaca 87 kali

JAMBI, bungopos.com - Di sebuah ruang operasi yang sunyi, di mana detak jantung pasien menjadi satu-satunya irama yang menentukan hidup dan mati, seorang dokter pernah mengabdikan dirinya sepenuhnya. Tangan yang terlatih, keputusan yang presisi, dan empati yang tak boleh hilang—semua itu menjadi bagian dari keseharian Masoud Pezeshkian jauh sebelum ia melangkah ke panggung politik nasional.

Kini, sejak 28 Juli 2024, ia memimpin Iran sebagai presiden, menggantikan Ebrahim Raisi. Namun bagi banyak orang, Pezeshkian bukan sekadar pemimpin negara—ia adalah sosok yang membawa nilai-nilai kemanusiaan dari ruang medis ke ruang kekuasaan.

Lahir pada 29 September 1954 dari keluarga Azerbaijan Iran, perjalanan hidup Pezeshkian tidak dibangun di atas privilese, melainkan kerja keras dan pendidikan. Ia menempuh jalan panjang hingga menjadi dokter spesialis bedah jantung—sebuah profesi yang menuntut ketelitian sekaligus kepekaan rasa.

Sebagai mantan Rektor Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz, ia tidak hanya mendidik calon tenaga medis, tetapi juga menanamkan nilai bahwa ilmu pengetahuan harus selalu berpihak pada kemanusiaan. Baginya, kesehatan bukan sekadar layanan, melainkan hak dasar setiap manusia.

Langkahnya ke dunia politik dimulai saat ia dipercaya menjadi Menteri Kesehatan pada masa pemerintahan Mohammad Khatami (2001–2005). Di sana, ia dikenal sebagai sosok yang mendorong profesionalisme dan pemerataan akses layanan kesehatan.

Kariernya berlanjut sebagai anggota parlemen mewakili Tabriz sejak 2008, hingga menjabat Wakil Ketua Parlemen pada 2016–2020. Dalam setiap posisi, Pezeshkian dikenal sebagai politisi yang tidak kehilangan jati diri sebagai seorang dokter—ia melihat kebijakan bukan hanya dari sisi kekuasaan, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan manusia.

Sebagai seorang reformis moderat, ia mendorong keterbukaan sosial dan dialog dengan dunia internasional, tanpa melepaskan komitmen terhadap sistem yang ada. Sikap ini menjadikannya jembatan di tengah berbagai arus politik yang sering kali berseberangan.

Kemenangannya dalam pemilu presiden khusus tahun 2024—yang digelar setelah wafatnya Ebrahim Raisi—bukan hanya hasil dari strategi politik, tetapi juga cerminan kepercayaan rakyat terhadap sosok yang dianggap memahami penderitaan mereka.

Di tengah tantangan ekonomi, sosial, dan geopolitik, kehadiran Pezeshkian membawa harapan baru: bahwa kepemimpinan bisa berjalan seiring dengan empati.

Apa yang membedakan Pezeshkian dari banyak pemimpin lainnya mungkin terletak pada cara pandangnya. Seorang dokter tidak hanya melihat penyakit, tetapi juga pasien secara utuh—latar belakangnya, kondisinya, dan harapannya.

Pendekatan itulah yang kini ia bawa dalam memimpin negara. Ia berbicara tentang keadilan sosial, kesetaraan, dan pentingnya kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas. Baginya, sebuah negara yang sehat bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kesejahteraan rakyatnya.

Dalam dunia yang sering kali dipenuhi kepentingan dan rivalitas, kisah Masoud Pezeshkian menjadi pengingat sederhana namun kuat: bahwa kepemimpinan terbaik lahir dari hati yang pernah belajar merasakan sakit orang lain.

Dan mungkin, di tengah kompleksitas politik global, dunia masih membutuhkan lebih banyak pemimpin yang pernah berdiri di ruang operasi—tempat di mana kemanusiaan menjadi prioritas utama. (***)

Editor: arya abisatya
Sumber: https://id.wikipedia.org/
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com