M Aqil Zhafran
Oleh : M Aqil Zhafran
MALAM ini, langit seakan ikut bersuara. Semesta menggema oleh kalimat agung, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallahu wallahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd.” Sebuah penanda bahwa bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan telah sampai di penghujungnya. Ada haru yang tak terucap, ada syukur yang tak terhingga.
Di rumah-rumah, suasana hangat mulai terasa. Toples-toples berisi kue tersusun rapi, anyaman daun kelapa berisi beras tergantung sebagai simbol kesiapan menyambut hari kemenangan. Namun sejatinya, bukan itu yang paling utama. Lebih dari sekadar hidangan dan tradisi, yang kita siapkan adalah hati—hati yang ingin kembali bersih, hati yang rindu untuk saling memaafkan.
Syawwal datang membawa pesan yang sederhana namun dalam: kembali. Kembali kepada fitrah, kembali kepada ketulusan, kembali merajut hubungan yang mungkin sempat renggang. Silaturahmi bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan jembatan yang menghubungkan kembali jiwa-jiwa yang sempat terpisah oleh ego, salah paham, dan waktu.
Bermaaf-maafan bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Tidak mudah mengakui kesalahan, tidak ringan membuka pintu maaf. Tetapi justru di sanalah letak kemuliaannya. Kita tidak pernah tahu, apakah ini adalah kesempatan terakhir kita untuk saling menyapa, untuk saling memeluk dalam keikhlasan. Maka, jangan tunda untuk memaafkan dan meminta maaf.
Hari yang fitri ini seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga refleksi. Bahwa kemenangan sejati bukan sekadar berhasil menahan lapar dan dahaga, melainkan mampu menundukkan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, dan menjaga hati tetap bersih. Ramadhan telah melatih kita—dan Syawwal adalah ujian sesungguhnya: apakah kita mampu mempertahankan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari?
Mari kita jadikan Syawwal sebagai titik awal, bukan titik akhir. Awal untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih peduli, dan lebih ikhlas. Awal untuk memperkuat iman yang telah kita bangun, serta menebar kebaikan yang tak lagi mengenal batas waktu.
Semoga setiap amal ibadah yang telah kita lakukan diterima oleh Allah SWT. Dan semoga semangat kebersamaan serta keikhlasan untuk saling memaafkan tidak hanya hidup di hari raya, tetapi terus tumbuh di hari-hari berikutnya.
Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.
(Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Darussalam Gontor)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com