Mohd Haramen
Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy
DIDALAM lembaran hikmah yang ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad, tersimpan pesan yang sederhana, tetapi mengguncang kesadaran: bahwa Allah tidak selalu menilai hamba-Nya dari amalan besar yang tampak megah di mata manusia, melainkan dari getaran kasih yang tulus—bahkan pada sesuatu yang sering dianggap sepele.
Dikisahkan tentang Imam As-Syibli yang suatu hari menemukan seekor anak kucing kecil, lemah, dan menggigil di dinginnya jalanan Baghdad. Tidak ada sorotan, tidak ada pujian manusia—hanya hati yang tergerak. Ia memungut, mendekap, dan menghangatkannya dalam jubahnya.
Namun justru dari peristiwa kecil itulah, dalam mimpi setelah wafatnya, ia diberitahu bahwa ampunan Allah turun bukan karena ibadah besarnya, tetapi karena kasih sayang tulusnya kepada makhluk kecil itu.
Kisah serupa hadir dari Kitab al-Mawaidh al-'Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr al-Ushfury. Dimana dalam kitab tersebut dikisahkan tentang Umar bin Khattab ketika melihat seorang anak kecil mempermainkan burung pipit di Madinah, hatinya tersentuh. Ia membelinya—bukan untuk dimiliki, tetapi untuk dibebaskan. Sebuah tindakan sederhana, tetapi penuh makna kemerdekaan bagi makhluk kecil. Dan dalam riwayat mimpi para ulama, disebutkan bahwa kasih sayang itulah yang menjadi sebab ampunan Allah atas dirinya.
Lalu datang kisah yang lebih menggugah dari perjalanan Nabi Isa. Dalam Kitab 'Al-Bidayah wa An-Nihayah' karya Ibn Katsir disebutkan saat Nabi Isa AS melewati sebuah kuburan, terdengar jeritan seorang lelaki yang disiksa. Ketika dihidupkan kembali atas izin Allah, lelaki itu mengaku bukan orang yang meninggalkan salat atau puasa. Ia taat, ia beribadah.
Namun, ia disiksa karena sesuatu yang nyaris tak dianggap: sepotong kecil kayu yang ia cungkil dari dagangannya untuk membersihkan gigi—tanpa izin, tanpa keikhlasan untuk menghalalkan.
Sepele? Di mata manusia, mungkin.
Tetapi tidak di hadapan Allah.
Di sinilah Ramadhan mengajarkan kita makna terdalam dari puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan kejujuran batin. Ia mendidik kita untuk sadar bahwa setiap detik hidup diawasi oleh Yang Maha Melihat—bahkan ketika tidak ada satu pun manusia yang tahu.
Puasa melatih kita untuk:
Karena bisa jadi, satu senyuman yang tulus lebih berat timbangannya daripada seribu rakaat yang kosong dari keikhlasan.
Dan bisa jadi pula, satu dosa kecil yang diremehkan justru menjadi sebab panjangnya penyesalan.
Ramadhan adalah madrasah kepekaan. Ia mengasah jiwa agar tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun—memberi air, menolong hewan, menahan amarah, atau sekadar memaafkan.
Sekaligus mengingatkan bahwa dosa kecil yang dibiarkan terus-menerus dapat menjadi besar di sisi Allah.
Maka, jangan tunggu menjadi besar untuk berbuat baik.
Dan jangan tunggu terlihat orang lain untuk meninggalkan keburukan.
Karena di hadapan Allah, yang kecil bisa menjadi sangat besar.
Dan yang besar bisa menjadi tak bernilai—jika kehilangan keikhlasan.
Ramadhan bukan tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi seberapa jernih hati kita saat melakukannya.
(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari Bidang Penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah )
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com