Mohd Haramen

PUASA KE XXI : Diambang Seribu Bulan

Posted on 2026-03-11 17:50:20 dibaca 113 kali

Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy

 

DIANTARA para sahabat Nabi, Abdullah bin Umar dikenal sebagai seorang yang memiliki kekayaan melimpah. Perniagaannya berhasil, hartanya banyak, dan kehidupannya secara lahir tampak berkecukupan. Namun yang membuatnya istimewa bukanlah jumlah hartanya, melainkan cara ia memperlakukan harta tersebut.

Suatu hari di bulan Ramadhan, sebagaimana disaksikan oleh Ayyub bin Wail ar-Rasibi, Ibnu Umar menerima kiriman harta senilai empat ribu dirham. Bersama kiriman itu terdapat pula sebuah baju yang sangat bagus—pakaian yang pantas dikenakan oleh orang terpandang.

Namun sesuatu yang mengherankan terjadi keesokan harinya.

Ayyub berpapasan dengan Ibnu Umar di pasar. Ia melihat sahabat Nabi itu berutang kepada seorang pedagang hanya untuk membeli pakan kudanya.

Ayyub pun heran. Bukankah baru kemarin ia menerima ribuan dirham?

Karena penasaran, Ayyub mendatangi rumah Ibnu Umar dan menanyakan kepada keluarganya. Mereka pun menjawab dengan tenang:

“Semua dirham itu tidak sempat bermalam di rumah ini.”

Ternyata, pada malam yang sama setelah menerima kiriman tersebut, Ibnu Umar membagikan seluruh hartanya kepada fakir miskin. Tidak satu dirham pun ia simpan untuk dirinya. Bahkan baju indah yang baru saja ia terima juga telah diberikan kepada seorang yang membutuhkan.

Ketika keluarganya menanyakan hal itu, Ibnu Umar hanya tersenyum dan berkata pelan:

“Baju dan semua uang itu sudah saya sedekahkan.”

Begitulah cara seorang sahabat Nabi menjalani Ramadhan. Harta baginya bukan untuk ditumpuk, tetapi untuk menghidupkan hati orang lain yang sedang kesulitan.

Kisah itu mengingatkan kita pada pesan besar yang pernah disampaikan oleh ulama agung Hasan al-Basri.

Suatu hari ia melewati sekelompok orang yang tertawa terbahak-bahak di bulan Ramadhan. Melihat itu, ia berkata dengan penuh nasihat:

“Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena perlombaan bagi hamba-hamba-Nya dalam ketaatan.”

Artinya, Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah perlombaan menuju kebaikan—perlombaan memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan memperluas kepedulian kepada sesama.

Kini dua puluh hari Ramadhan telah berlalu.
Sepuluh malam terakhir—malam-malam paling mulia—sudah berada di depan mata.

Inilah saatnya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sudah berubah dalam diri kita selama Ramadhan ini?

Apakah hati kita menjadi lebih lembut?
Apakah tangan kita lebih ringan memberi?
Atau justru Ramadhan berlalu seperti hari-hari biasa?

Seorang sufi perempuan yang sangat bijaksana, Rabi'ah al-Adawiyah, pernah memberikan nasihat yang menggugah kesadaran manusia.

Suatu hari seseorang datang kepadanya sambil mengeluhkan keburukan orang lain. Ia menceritakan dosa dan kesalahan orang-orang di sekitarnya.

Rabi’ah mendengarkannya dengan tenang, lalu berkata:

“Jika engkau sibuk melihat dosa orang lain, berarti engkau lupa melihat dosa yang lebih dekat—yaitu dosa dirimu sendiri.”

Orang itu pun terdiam.

Saat itulah ia menyadari bahwa perjalanan spiritual bukan diukur dari seberapa banyak kita menilai orang lain, tetapi dari seberapa jujur kita memperbaiki diri sendiri.

Ramadhan sebenarnya adalah cermin hati.
Di bulan inilah manusia diajak melihat dirinya dengan lebih jujur.

Apakah kita masih menyimpan kesombongan?
Apakah kita masih pelit berbagi?
Apakah kita masih sibuk menghakimi orang lain?

Padahal di sepuluh hari terakhir Ramadhan terdapat satu malam yang sangat agung: Lailatul Qadr.

Malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan—lebih dari delapan puluh tiga tahun ibadah.

Karena itu, Muhammad memperbanyak amal pada sepuluh malam terakhir. Beliau melakukan beberapa amalan utama:

  • I’tikaf, berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah.

  • Qiyamul lail, memperbanyak shalat malam, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.

  • Bersedekah, berbagi kepada sesama dengan penuh keikhlasan.

Bahkan Rasulullah dikenal sebagai manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhir.  Semua itu memberi pesan yang sangat jelas bagi kita bahwa Ramadhan bukan hanya soal menahan diri, tetapi juga memberi diri.

Menahan lapar, tetapi memberi makan orang lain.
Menahan amarah, tetapi memberi maaf.
Menahan keinginan dunia, tetapi memberi ruang bagi Allah di dalam hati.

Kisah Ibnu Umar, nasihat Hasan Bashri, dan kebijaksanaan Rabi’ah Al-Adawiyah sebenarnya mengajarkan satu hal yang sama yakni Manusia tidak menjadi mulia karena apa yang ia miliki, tetapi karena apa yang ia berikan. Maka sebelum Ramadhan benar-benar pergi, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Jika malam ini adalah malam Lailatul Qadr,
apa yang akan kita bawa menghadap Allah?

Harta yang kita simpan?
Atau hati yang kita bersihkan?

Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan manusia bukanlah banyaknya harta, bukan pula banyaknya kata-kata, tetapi ketulusan hati yang mampu berbagi, menangis, dan kembali kepada Tuhannya.

 

(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)

Penulis: Mohd Haramen
Editor: arya abisatya
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com