Mohd Haramen
Oleh : Mohd Haramen, S.E, M.E.Sy
DI TENGAH hiruk pikuk dunia yang sering memamerkan kebaikan, ada sosok mulia dalam sejarah Islam yang justru memilih jalan sunyi. Ia adalah Ali bin Husayn, yang dikenal pula dengan nama Zainal Abidin atau Zainul Abidin—cicit dari Nabi Muhammad ﷺ. Namanya harum bukan karena kemewahan, melainkan karena keikhlasan yang tersembunyi dari pandangan manusia.
Beliau lahir pada tahun 38 Hijriah dan hidup dalam masa yang penuh ujian bagi keluarga Ahlul Bait. Namun dari kehidupannya yang sederhana, terpancar keteladanan yang luar biasa: kedermawanan yang dilakukan tanpa ingin diketahui siapa pun.
Sejarawan besar Islam, Al-Dhahabi, dalam kitab Siyar A'lam al-Nubala' meriwayatkan kisah yang menyentuh hati tentang beliau.
Pada malam-malam yang sunyi, ketika sebagian besar orang terlelap dalam tidur, Zainul Abidin berjalan menyusuri jalanan Madinah. Di punggungnya dipikul karung berisi roti atau gandum. Dengan langkah tenang, ia mendatangi rumah-rumah orang miskin—mengetuk pintu mereka, lalu meninggalkan makanan itu tanpa memperkenalkan dirinya.
Tak ada sorotan, tak ada pujian, tak ada saksi.
Ia pernah berkata,
“Sesungguhnya sedekah di tengah gelap malam itu akan meredam murka Rabb.”
Penduduk kota itu bertahun-tahun menerima roti yang datang setiap malam. Mereka bersyukur atas rezeki yang tiba-tiba hadir, tetapi tidak pernah tahu dari mana asalnya. Tidak ada yang melihat siapa pemberinya.
Hingga suatu hari, kabar duka menyelimuti kota. Zainul Abidin wafat pada tahun 94 Hijriah dan dimakamkan di Jannat al-Baqi. Sejak hari itu, roti yang biasa datang pada malam hari tidak pernah muncul lagi.
Barulah masyarakat menyadari: lelaki yang selama ini memikul gandum di punggungnya dalam gelap malam itulah sumber kebaikan yang selama ini mereka rasakan.
Begitulah keikhlasan bekerja. Ia tidak membutuhkan tepuk tangan manusia, karena balasannya disimpan langsung oleh Allah.
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang yang menafkahkan hartanya siang dan malam, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, akan mendapatkan pahala di sisi Allah dan tidak ada rasa takut bagi mereka.
Bahkan, dalam hadis Nabi ﷺ disebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah orang yang bersedekah secara rahasia—hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.
Kisah Zainul Abidin mengajarkan kita sesuatu yang sangat dalam: kebaikan yang paling murni adalah kebaikan yang tidak mencari sorotan.
Di zaman ketika banyak orang berlomba menampilkan amalnya, teladan beliau justru mengajak kita kembali kepada keheningan niat. Bahwa mungkin, amal yang paling dicintai Allah adalah yang hanya diketahui oleh-Nya. Baznas merupakan tempat yang cocok bersedekah dalam sunyi ini. Tinggal ditransfer tanpa diketahui orang lain.
Sebab pada akhirnya, bukan manusia yang menentukan nilai sebuah kebaikan.
Tetapi Allah yang melihatnya—bahkan ketika kebaikan itu dilakukan dalam gelapnya malam.
(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari bidang penghimpunan Zakat, Infaq dan Sedekah)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com