Mohd Haramen
DITENGAH terik matahari Madinah dan kehidupan yang serba terbatas, hiduplah seorang sahabat Nabi yang namanya mungkin tak sepopuler yang lain, namun ketulusan hatinya menembus langit. Ia adalah Uqbah bin ‘Amr al-Anshari.
Ia bukan saudagar kaya. Bukan pula bangsawan terpandang. Hidupnya sederhana, bahkan cenderung sempit. Namun ada satu hal yang tak pernah sempit dalam dirinya: keinginan untuk berbagi.
Suatu ketika, saat ayat tentang sedekah diturunkan, hatinya bergetar. Seruan langit itu begitu kuat menggugah jiwanya. Ia ingin bersedekah. Ia ingin mengambil bagian dalam amal yang dijanjikan pahala besar di sisi Allah.
Namun kenyataan menghentak: ia tidak memiliki harta.
Alih-alih berdiam diri dan menjadikan kemiskinan sebagai alasan, Uqbah justru mencari jalan. Ia dan beberapa sahabat lain rela bekerja sebagai kuli panggul. Mengangkat beban orang lain, memeras keringat, demi mendapatkan upah kecil yang bisa dipersembahkan di jalan Allah.
Ironisnya, di tengah ketulusan tersebut, kaum munafik justru mencela. Mereka meremehkan sedekah yang sedikit. Mereka menertawakan usaha yang dianggap tak berarti. Bagi mereka, jumlah lebih penting daripada keikhlasan.
Namun Allah tidak diam. Turunlah firman-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 79:
“Orang-orang yang mencela mukmin yang bersedekah secara sukarela dan mencela mukmin yang bersedekah sekadar dari harta yang mereka hasilkan, Allah akan membalas penghinaan itu, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.”
Ayat ini bukan sekadar teguran. Ia adalah pembelaan langit bagi hati-hati yang tulus. Allah sendiri yang membela mereka yang memberi, meski hanya sedikit. Karena sesungguhnya, yang dinilai bukan angka — melainkan cinta dan niat di baliknya.
Kisah ini mengajarkan satu pelajaran yang begitu jernih: berbuat baik tidak perlu menunggu kaya. Kebaikan tidak lahir dari tebalnya dompet, tetapi dari lapangnya hati. Banyak orang kaya harta namun miskin empati. Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun kaya jiwa.
Dimasa kini terkadang sifat indvidu sebagai makhluk ekonomi selalu berorientasi pada keuntungan. Terkadang, motif cinta, empati, kedermawanan, solidaritas, kasih sayang, emosi, persahabatan, dan kesetiakawanan tidak hadir dalam aktivitas sehari-hari. Ramadhan membawa pesan bahwa manusia harus mengerem nafsu atas hal-hal yang duniawi. Karena sesungguhnya seluruh kepemilikan di dunia ini bersifat fana.
Ini juga yang mengilhami manusia pada bulan ini lebih banyak mengeluarkan sedekah ketimbang bulan-bulan lainnya. Praktis, selama sebulan ini yang bergulir adalah ‘ekonomi sedekah’, yang pasti tidak akan memberikan ‘keuntungan materi’.
Sifat kedermawanan ini sebetulnya cuma memberi pesan tunggal: bahwa manusia bukanlah binatang ekonomi. Jadi, ramadhan bisa menjadi teladan bahwa sedekah merupakan bagian penting dalam aktivitas ekonomi, selain motif profit.
Mari manfaatkan Ramadhan dengan banyak bersedekah sebagai momentum spiritual. Dimana ketika pahala dilipatgandakan, doa-doa lebih mudah menembus langit, dan hati lebih lembut menerima nasihat. Maka, jika hari ini kita merasa harta kita terbatas, ingatlah Uqbah. Jika kita merasa belum kaya, ingatlah bahwa Allah tidak menunggu kita kaya untuk memberi pahala.
(Penulis adalah Wakil Ketua I Baznas Kabupaten Batang Hari Bidang Penghimpunan Zakat Infaq dan Sedekah)
Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi
E-Mail: bungoposonline@gmail.com