Sedekah yang Mendidik Martabat Kemanusiaan

Sedekah yang Mendidik Martabat Kemanusiaan

Posted on 2026-02-27 09:34:31 dibaca 85 kali

Sedekah Menemukan Makna Tertingginya : Memanusiakan Manusia Dan

Mendekatkannya Kepada Allah SWT”

Oleh : Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd

Ketua ISMI Perwakilan Provinsi Jambi

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, sedekah sering kali dipahami secara sempit sebagai aktivitas memberi materi kepada mereka yang membutuhkan. Padahal, dalam pandangan Islam, sedekah memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar pemindahan harta dari tangan yang mampu ke tangan yang membutuhkan, tetapi sebuah proses pemuliaan manusia, penguatan iman, dan pendidikan ruhani yang berkelanjutan.

Sedekah yang disertai dengan edukasi tidak pernah merendahkan penerimanya. Justru sebaliknya, ia mengangkat martabat manusia sebagai makhluk berakal dan beriman. Penerima sedekah tidak diposisikan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek pembelajaran, mitra kebaikan, dan bagian dari proses membangun peradaban yang beradab. 

Dalam Islam, manusia dimuliakan bukan karena kekayaan atau kedudukannya, tetapi karena akal, iman, dan ketakwaannya. Allah SWT menegaskan: “Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra: 70)

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa setiap manusia—siapa pun dia—memiliki martabat yang harus dijaga. Maka, setiap bentuk sedekah seharusnya tidak menghilangkan kehormatan penerima, apalagi menjadikannya sekadar objek penderita.

Sedekah yang mendidik justru memperkuat rasa percaya diri, kesadaran iman, dan harga diri sebagai manusia yang utuh.

Sedekah sebagai Proses Pendidikan Pendidikan dalam Islam tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Ia bisa hadir di masjid, di rumah, di jalan, bahkan di tengah antrean berbuka puasa. Ketika sedekah disertai dengan pengingat iman, pertanyaan ringan tentang agama, atau ajakan mengingat Allah, maka sedekah berubah menjadi proses pendidikan yang hidup dan membumi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Hadis ini tidak membatasi “jalan mencari ilmu” hanya pada bangku pendidikan formal. Setiap ruang yang membuka akses kepada pengetahuan dan kesadaran iman adalah bagian dari jalan menuju surga. Ketika seseorang diajak mengingat nama Allah, membaca Al-Fatihah, atau mengenal rukun iman sambil menerima sedekah, maka sesungguhnya ia sedang menempuh jalan ilmu—meski dalam bentuk yang sangat sederhana.

Di sinilah keindahan Islam terlihat: ilmu tidak elitis, iman tidak eksklusif, dan pendidikan tidak memerlukan simbol kemewahan. Ia cukup hadir dengan niat tulus dan cara yang bijaksana.

Menjaga Kehormatan Penerima Sedekah Salah satu penyakit sosial yang sering muncul dalam praktik sedekah adalah hilangnya sensitivitas terhadap martabat penerima. Tidak jarang, sedekah dilakukan dengan cara yang justru melukai harga diri: dipertontonkan, direkam berlebihan, atau disertai narasi yang menempatkan penerima sebagai pihak yang lemah dan tak berdaya. 

Islam menolak cara pandang semacam ini. Allah SWT memperingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)…” (QS. Al-Baqarah: 264)

Sedekah yang mendidik martabat kemanusiaan justru dilakukan dengan penuh adab, empati, dan kesetaraan. Penerima diperlakukan sebagai saudara seiman, bukan sebagai objek kasihan. Edukasi yang disampaikan pun bersifat menguatkan, bukan  

menghakimi; mengingatkan, bukan merendahkan. 

Ketika seseorang ditanya dengan lembut tentang bacaan shalat atau nama nabi, lalu dibimbing dengan penuh kasih jika belum tahu, maka yang tumbuh bukan rasa malu, melainkan rasa ingin belajar. Inilah pendidikan yang memanusiakan manusia.

Ramadhan: Bulan Pendidikan Ruhani Kolektif Ramadhan adalah momentum paling tepat untuk menghadirkan sedekah yang mendidik. Di bulan ini, hati manusia cenderung lebih lembut, jiwa lebih terbuka, dan kesadaran iman lebih mudah disentuh. Setiap kebaikan dilipatgandakan, bukan hanya nilainya, tetapi juga dampaknya.

Ketika jalan menuju ilmu dibuka bahkan di tengah antrean berbuka puasa, Ramadhan benar-benar menjadi bulan pendidikan ruhani bagi semua lapisan masyarakat.

Anak-anak belajar mengenal surat-surat pendek, orang dewasa mengingat kembali rukun iman, dan semua yang hadir merasakan bahwa agama bukan beban, melainkan cahaya. 

Inilah wajah Islam yang ramah, membumi, dan memuliakan manusia.Dari Sedekah Menuju Peradaban Sedekah yang mendidik martabat kemanusiaan pada hakikatnya adalah investasi peradaban. Ia membentuk manusia yang tidak hanya kenyang secara fisik, tetapi juga tercerahkan secara spiritual. Ia melahirkan masyarakat yang tidak hanya pandai meminta, tetapi juga siap belajar, tumbuh, dan kelak memberi. Dalam jangka panjang, sedekah semacam ini akan melahirkan generasi yang memahami bahwa iman tidak diwarisi begitu saja, tetapi dipelajari dan dihidupi. Mereka akan tumbuh dengan kesadaran bahwa ilmu dan iman adalah jalan kemuliaan, bukan sekadar status sosial.

Rasulullah SAW mencontohkan model pendidikan semacam ini sepanjang hidup beliau: mengajar sambil memberi, membimbing sambil memuliakan, dan mendidik tanpa pernah merendahkan.

Penutup

Sedekah yang mendidik martabat kemanusiaan adalah sedekah yang menghidupkan jiwa. Ia tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi meluas menjadi pemberian makna. Ia menjaga kehormatan manusia, menumbuhkan iman, dan membuka jalan ilmu, bahkan di ruang-ruang paling sederhana. 

Jika sedekah dilakukan dengan adab, hikmah, dan niat mendidik, maka ia bukan hanya amal jariyah, tetapi juga fondasi bagi lahirnya masyarakat yang beriman, berilmu, dan berperadaban. Di situlah sedekah menemukan makna tertingginya : memanusiakan manusia dan mendekatkannya kepada Allah SWT.(*)

Penulis: Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd
Editor: Linnaliska
Copyright 2023 Bungopos.com

Alamat: Graha Pena Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08
Kenali Besar, Kec. Alam Barajo, Kota Jambi

Telpon: -

E-Mail: bungoposonline@gmail.com